Rasanya, pingin melihat Aceh sebagai negara. Betapa tidak, di saat Indonesia, Malaysia, Thailand, dan negara lainnya memilih menolak orang-orang terusir dari tanah kelahirannya, seperti yang dialami etnis Rohingya, Myanmar, alangkah gagahnya bila Negara Aceh dapat tegak kokoh membantu, sekaligus membela. Siapapun orang-orang tertindas dari tanah airnya, apalagi bila mereka itu orang yang seiman, Negara Aceh wajib membela. Titik!
Bila perlu, Negara Aceh membentuk bala tentara terkuat dan tercepat pergerakannya, atau yang diberinama Pasukan Sangkilat Aceh, sehingga bila melakukan operasi bisa mudah menembus istana kepresidenan atau istana raja negara lain. Pasukan Sangkilat Aceh bisa diberi kuasa untuk memaksa kepala negara yang tidak berprikemanusiaan agar mau mereformasi konstitusi mereka, merombak birokrasi, dan membangun budaya masyarakatnya sehingga menjadi negara yang bermartabat. Jika tidak bersedia, pada saat itu juga Aceh, melalui Pasukan Sangkilat Aceh, akan menjadikan negara tersebut sebagai negeri taklukan. Nyan Ban!
Dunia harus tahu. Aceh itu, negeri yang dihuni oleh generasi yang nenek moyangnya adalah para pejuang. Paham betul bagaimana sakitnya hidup di bawah kendali penjajah. Aceh itu paham betul makna kehilangan sejengkal tanah yang dari bawah buminya kekayaan mengalir jauh entah kemana, sementara di negerinya sendiri, rumah-rumah penduduk masih beratap rumbia, penduduknya masih sulit beli beras padahal ladang membentang sejauh mata memandang, dan masa depan sebagian warganya akan sangat ditentukan oleh mau atau tidak untuk nekat bertarung merebut tampuk kekuasaan.
Tapi, mau bilang apa? Keadaan Aceh saat ini, sudah meninggalkan masa keagungan itu, bahkan berjarak terlalu jauh. Negara Bayangan yang kita harapkan menjadi Negara Nyata tidak wujud, meski sampai saat ini dan mungkin juga selamanya masih akan ada terus usaha memperjuangkannya. Aceh hari ini faktanya, adalah sebuah provinsi dari negeri berpenduduk lebih dari 250 juta dengan jumlah etnis, lebih kurang 1.340 suku bangsa. Indonesia.
Saat ini, kita adalah bagian dari negeri yang sikap dan kebijakan politiknya ikut dipengaruhi, jika bukan oleh Amerika Serikat ya oleh Republik Rakyat Tiongkok. Sementara negara-negara sahabat lama Aceh, khususnya negara-negara Arab sedang sibuk dengan perang, atau sibuk memoles mempercantik negerinya sebagai negara dengan cita rasa negara kaya dan makmur. Dua negara inilah, AS dan RRT yang saling mempengaruhi, dan RRT malah sudah ikut menentukan gerak politik dan ekonomi di Myanmar. Indonesiapun saat ini sedang mesranya dengan RRT.
Bahkan patut diduga, RRT ikut menjadi aktor dibalik kekejaman junta militer atas etnis Rohingya sebelum Aung San Suu Kyi berjaya. Dukungan RRT dengan Rezim Junta Militer Myanmar dulu dalam rangka memberi akses kepada RRT mengambil sumber daya alam di negara bagian yang dihuni etnis Rohingya. Saat ini, seperti tercium skenario untuk meneruskan penindasan atas etnis Rohingya yang melibatkan warga Myanmar sebagai cara agar pihak militer dan penguasa bisa cuci tangan, dan penguasa sekarang bisa berkata bahwa rakyatlah yang tidak menginginkan Rohingya ada di Bumi Myanmar. Jadi, tidak heren jika penguasa di Myanmar terlihat mesra, sekalipun dengan pemuka agama radikal yang berani menghina muslim dan melecehkan petugas PBB. Seruan tokoh penting Budha dari Tibet Dalai Lama agar tidak menyakiti muslim diabaikan.
Dalam situasi pelik itu, apa daya Aceh bila bukan sebagai negara?
Lebih dari itu, situasi yang dihadapi etnis Rohingya tidak makin sederhana, sebab tidak tertutup kemungkinan adanya kepentingan penumpang gelap untuk mencari keuntungan, seperti bisnis perdangangan manusia. Baiklah, kita tidak peduli dengan semua ini, sebab sebagai negeri bermartabat kita punya keyakinan yang menjadi identitas kebanggaan kita. "Apapun yang terjadi, kita harus menampung dan memberdayakan orang-orang yang terbuang dari negerinya." Ahai, tidakkah ini kabar "seksi" bagi para mafia? Aceh bisa dijadikan negeri tujuan, padahal sebelumnya Malaysia dan Australialah sasaran tujuan kepergian mereka.
Pokoknya kita tidak mau tahu. Lebih utama harga diri. "Hidup mulia mati syahid." Apa kata dunia bila Aceh tidak mau membantu sementara dunia pernah membantu Aceh dari malapeta kemanusiaan? Allahu Akbar! Aceh harus membantu. Lebih bagus kita sama-sama menderita di sini, ketimbang membiarkan saudara seiman kita kembali ke negerinya. Itu sama saja menyerahkan leher mereka digorok orang-orang tidak berperikemanusiaan. "Kita akan tunjukkan kepada dunia, Aceh negeri yang sejajar dengan bangsa-bangsa beradab di seluruh muka bumi."
Sabar-sabar! Turunkan dulu lengan bajumu, sejenak. Bek langsong emosi!
Mari kita lihat kemampuan Pemerintah Aceh menurunkan angka kemiskinan bagi rakyatnya. Mari kita cermati kemampuan Aceh dalam mengejar ketertinggalan pembangunannya. Mari kita hitung kecepatan pemerintah Aceh dalam membangun sumber-sumber kerja bagi rakyatnya, yang sudah hidup puluhan tahun dalam kepungan konflik berkepanjangan, hidup dalam kekuasaan yang korup begitu lama, sehingga sampai saat ini terus berkelanjutan kknnya. Apa tidak akan keluar kalimat, suatu ketika nanti: "Leuh bak babah rimueng, matee bak haba peulandok."
"Aihhhh... ini soal kemanusian bung. Paleh that lagoe. Hana peka sagai."
Benar sekali! Ini soalan kemanusiaan. Siapapun, agama apapun, etnis apapun, wajib ditolong bila ditemukan sedang kesusahan, apalagi sedang sakarat. Bahkan, musuh sekalipun wajib diperlakukan secara manusiawi bila sedang tidak berdaya. Orang-orang luka wajib diobati, yang kelaparan wajib diberi makan, anak-anak yang trauma wajib dipulihkan. Bukankah kita paling mengerti arti kepedihan?
Tidak usah ditarik sampai kepala pusing, apalagi bermaksud tanpak sebagai seorang pejuang, dan mencoba memanas manasi warga bahwa ini konflik agama, dan wajib dibela, bila perlu dengan "menyerang" pemeluk agama budha yang ada di Aceh. Jangan! Jika kita mengaku paling paham arti kepedihan, jangan pernah melukai, sekalipun mereka itu tidak sekeyakinan. Tidak ada perang agama. Solusi perbedaan agama adalah dialog. Perang diizinkan Tuhan untuk menghadapi kekuasaan yang menindas, yang kerap berlindung dibalik jubah kepercayaan. Agama bukan untuk memerangi orang lain yang tidak membuatmu terancam.
Bila ada kemampuan berlebih, didik mereka untuk menjadi pejuang yang wajib mematahkan kekuasaan yang zalim. Sekali lagi, kezaliman kekuasaan di Myanmar wajib dilawan, terutama oleh rakyatnya sendiri. Jika ada warga Aceh yang siap, kirim menjadi relawan perang. Mereka-mereka yang sedang giat menyeru khalifah sebagai segala solusi, diajak untuk melakukan tindakan cepat membantu angkat senjata. Tidak harus menunggu terbentuk khalifah dulu. Menyelamatkan nyawa dan membebaskan orang tertindas bukankah lebih utama didahulukan. Mereka-mereka yang sangat getol menyeru ayat-ayat jihad diruang publik apalagi yang tampil riya, di data dan dipanggil untuk diberangkatkan. Tinggalkan dulu gedung parlemen, jabatan bupati, dan jabatan lainnya, dan pergilah bahu membahu bersama warga Rohingya melawan rezim penindas yang semakin mesra dengan RRT, dan mungkin sebentar lagi juga bakal mesra dengan Amerika.
Bagi yang tinggal, teruslah berusaha untuk memperbaiki Aceh agar tidak makin menjauh dari cita-cita sejahtera. Teruslah berjuang untuk memerangi kemiskinan, memerangi penggangguran, dan berjuang membuka lahan-lahan agar tidak makin banyak bergantung pada kerja jadi pegawai negeri. Teruslah berjuang untuk memastikan semakin banyak rakyat Aceh yang kaya dengan nelayannya, sejahtera dengan pertanian dan perkebunannya, dan makin kaya pula spiritualnya, dan pejabat makin kaya pengabdian dan pelayanannya sehingga setiap orang Aceh bisa dan mampu membantu siap saja yang sedang mengalami kesusahan, dan ketika memutuskan berjihad di negeri lain yang jauh, ia tidak meninggalkan keluarganya dalam keadaan susah, apalagi terlantar. Bagi yang tinggal di sini teruslah berjuang agar hadir pemimpin yang memimpin negeri, bukan memimpin koloninya saja. Lebih utama, kayakan keuangan Aceh agar bisa menolak intervensi Amerika dan juga RRT, dan bila perlu bisa menolak APBA agar tidak harus minta izin kepada Pemerintah Pusat, sehingga Aceh, meski bukan negara tapi bisa wujud sebagai negara dalam tindakannya.
Nah, sambil menunggu semunya menjadi kenyataan, mari kita sumbang yang bisa kita sumbang secara langsung, atau melalui mereka yang sudah berinsiatif membuka posko Aceh peduli Rohingya. Jika ada duit, sumbang duit, jika ada baju, sumbang pakaian, jika ada makanan, sumbang makanan, jika terampil dalam konseling, datangi lokasi. Minimal buat status yang menggugah simpati dan empati atau status yang membantu mereka yang bertugas dilapangan, bukan status yang memercik api kebencian agama.
Bila mungkin, ajak Pemerintah Aceh dan DPRA untuk lobi pemerintah pusat agar putra-putri Aceh ada yang ditugaskan di kementerian luar negeri atau menjadi petugas di kedutaan Indonesia di Myanmar agar bisa memantau langsung keadaan di sana. Pemerintah Aceh kita harap dapat menjalin kontak dengan negara-negara Islam agar ikut ambil bagian dalam meringankan derita Muslim Rohingya, dan bila ada ruang, panggil NGO-NGO yang memiliki ketrampilan investigasi, advokasi, lobi, negosiasi, dan resolusi konflik dan suruh mereka menjalin kontak dengan NGO di Myanmar, Thailand, Malaysia, dan lainnya agar terbangun Jejaring Asean untuk Advokasi Rohingya agar sama-sama mengabdi untuk mengatasi problem kemanusiaan di Myanmar. []
Karya Risman Rachman..
