Saat konflik bersenjata memanas di bumi Serambi Mekkah, keberadaan dayah sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Aceh, sedikit banyak ikut terimbas. 
Namun kini, pasca tiga tahun MoU Helsinki ditandatangani, institusi dayah bangkit kembali menunjukkan taringnya sebagai salah satu lembaga pendidikan favorit di Aceh. Tentu saja untuk mencapai semua itu tidak mudah, sebab dayah harus bersaing ketat dengan lembaga pendidikan lain di tengah-tengah derasnya  era globalisasi yang membutuhkan asupan informasi yang besar. Sebagian dayah pun mulai melakukan perombakan besar-besaran; mulai dari penerapan sistem kurikulum hingga pembenahan manajemen.


Lantas apakah dengan wajah yang baru, dayah tetap bisa eksis dalam dunia pendidikan Aceh? Kepada jurnalis Septian  Zaman yang mewawancarainya di sela-sela pertemuan ulama dayah seluruh Aceh pada awal Januari lalu di Banda Aceh, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dayah Fauzul Fata Gampong Neuheun Kecamatan Batee Kabupaten Pidie dan juga Penasehat II Yayasan Sentral Aneuk Atjeh International (SAAI) Teungku Ikhwani AL-Mushauwirda, HH, S.Pd  "membongkar" banyak hal terkait masalah "krusial" ini. Petikannya:


Bagaimana anda melihat prospek dayah di Aceh ke depan?

Dayah itu kapan pun bisa tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi saat ini di Aceh telah dibentuk satu badan yang khusus menangani tentang keberadaan dayah, sekalipun lahir organisasi yang masih peduli terhadap dayah di Aceh, seperti Yayasan Sentral Aneuk Atjeh International (SAAI), dan juga banyak organisasi lainnya.

Terkait globalisasi, apa yang harus dilakukan?
Sebenarnya proses belajar di dayah sudah cukup mantap namun banyak kalangan orang yang menilai system did ayah masih di pakai system dahulu padahal system dahulu itu sangatlah bagus, mereka saja yang tidak hidup did ayah yang tidak tahu bagai mana system lembaga dayah dan perlu juga Sebaiknya pihak dayah perlu sedikit (semacam) memoles atau memperbaharui beberapa sistem yang ada di lembaganya, tetapi tetap tidak mengganggu ciri khas yang ada di dayah itu sendiri.

Menuju ke arah itu, tidakkah ada kendala? Atau memang gampang alias mulus-mulus saja?
Oh banyak sekali kendala yang dihadapi oleh dayah, khususnya dayah salafiah. Baik dari segi fisik maupun sumber daya yang ada. Terutama di dalam hal-hal yang modern dikarenakan dayah salafiyah tidak ingin mengadukkan ke lembah modern, modern dayahsalayah itulah modern.

Maksud anda?
Sebenarnya dayah salafi itu kurikulumnya saja yang salafi, tetapi di luar kurikulum sudah moderen. Misalnya dalam penguasaan IT (Informasi Teknologi---red), sudah bisa dikatakan lumayan untuk tingkat Aceh. Laboratorium bahasa kadang-kadang sudah ada, labaoratorium komputer juga sudah lumayan ada. Dalam era globalisasi, hal seperti itu memang harus dilakukan. Untuk itulah yang kita harapkan; penguatan di dalam menyikapi hal-hal yang moderen ini tetapi tetap tidak mengganggu ciri khas klasiknya. Ciri khas klasiknya itu tetap dipertahankan seperti yang ada sekarang.

Ada lagi?
Pesantren di Aceh ini hidup dari bantuan masyarakat dan bantuan itu harus kita pergunakan pada hal-hal yang primer sekali. Kita tidak bisa menggunakan pada hal-hal yang bersifat duniawi seperti itu (IT, misalnya---red). Nanti masyarakat bisa marah. Mereka susah sekali mengumpulkan padi dan kasih ke pesantren, tapi sampai di pesantren masa kita buat lapangan tenis. Kita tahu bersama kan? Pemerintah sangat minim dalam mengurus masalah dayah makanya dana yang masuk untuk pembangunan sudah jadi tradisi memang dari masyarakat, Nah.. oleh sebab itulah kita ciptakan Yayasan SAAI ini sebagai salah satu wadah untuk bisa menampung segala hal yang mengenai dengan Pendidikan Dayah, disamping MISI VISI SAAI yang lainnya.


Guna mendukung eksistensi dayah, Pemerintah Aceh kini membentuk Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD). Anda melihat peran penting lembaga ini untuk menata masa depan dayah?
(Tergantung) bagaimana Badan Dayah dapat berperan untuk berusaha menyempurnakan sisi-sisi kelemahan yang ada di dayah melalui program-program yang mereka lakukan. Misalnya, kelemahan di dayah yang sangat mengganggu adalah sistem manajemen, atau sistem kurikulumnya. Karena, antara pesantren yang satu dengan yang lain, itu kurikulumnya bervariasi. Dan alhamdulilah Badan Dayah sudah melahirkan suatu acuan kurikulum yang ada di dayah yaitu Kurikulum Dayah.

Kini banyak bermunculan dayah-dayah moderen, termasuk dayah salafiah yang berubah menjadi dayah modern. Anda melihat fenomena ini seperti apa?
Begini. Dayah itu kan lembaga pendidikan. Tentu lembaga pendidikan bisa kita misalkan, umpamanya, dengan orang yang berjualan, yang tujuannya mendidik anak-anak kita agar betul-betul menjadi generasi Aceh yang islami dengan berbagai cara. Termasuk dengan menghadirkan kompleks yang moderen. Kita tidak bisa menafikan pesantren-pesantren yang salafi.


Ada kesan kebanyakan orangtua kurang tertarik memasukkan anak-anaknya untuk dididik di dayah, khsusunya pada dayah salafiah?

Saya rasa pesantren salafi atau modern itu harus tetap mempertahankan ciri khas yang mereka miliki sekarang ini. Karena tidak bisa kita melihat bahwa semua orang menginginkan anaknya untuk masuk ke pesantren moderen, tapi juga ada orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke pesantren salafi. Jadi kedua-dua itu harus berjalan.

Ada orang yang tidak berhasil di salafi, berhasil di modern, begitu juga sebaliknya. Jadi tidak ada pertentangan di antara kedua model pesantren ini untuk masyarakat Aceh. Memang ada dua versi yang dinginkan oleh masyarakat Aceh.

Tentang masalah tidak ada jaminan hidup bagi anak-anak yang ditempatkan di pesantren salafi, itu merupakan anggapan yang keliru. Kita melihat bagaimana ulama-ulama yang ada sekarang, bahkan para pimpinan pesantren yang ada sekarang, itu kan semua produk dayah salafi. Itu bukti kalau mereka juga bisa hidup, tingkat ekonomi mereka juga lumayan.


Kembali ke persoalan awal tadi. Apa yang paling dibutuhkan dayah untuk era globalisasi saat ini?

Pertama, khususnya  salafi, yaitu pengembangan bahasa, baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh pimpinan pesantren. Bahkan ada pimpinan dayah yang mencari sendiri guru bahasa Arab. Tapi sekarang ada permasalahan jika tidak ditangani oleh Badan Dayah. Permasalahannya yaitu, teungku yang mengajar pendidikan agama, yang 24 jam tinggal di situ, mereka tidak mendapat insentif tiap bulan. Tapi kenapa guru bahasa Arab yang mengajar hanya dua jam diberikan insentif. Ini terjadi kesenjangan. Tapi kalau ada satu program dari Badan Dayah untuk menempatkan guru bahasa Arab di beberapa pesantren untuk dijadikan percontohan dalam beberapa tahun, seperti guru kontraklah, itu akan sangat luar biasa. 

Hal kedua adalah bagaimana adanya peningkatan penguasaan teknologi yang dibutuhkan sekarang, misalnya internet. Jika dua hal ini bisa dijalankan, itu akan sangat alhamdulillah dan saya yakin dayah salafi akan terus bergerak melangkah kedepan dalam hal pengembangan kesalafiannya ke luar.

Tapi dayah-dayah salafi saat ini terkesan tidak mau tergantung terhadap masalah ini?
Iya betul, mereka tidak mau tergantung dalam bentuk meminta, karena itu sangat dijaga. Tapi kalau ada satu program yang dila-kukan oleh Pemerintah Aceh untuk memfasilitasi hal-hal yang seperti ini, itu sesuatu yang tidak akan ditolak. Sifat ketergantungan yang seperti itu yang tidak mereka mau. Misalnya membuat proposal untuk buat perpustakaan dan melobi pemerintah, ini yang tidak diinginkan. Di sini juga di butuhkan sebuah wadah yang bisa menampung atau membuat urusan dengan pemerintahan.
Yang penting sesudah kita berikan, kita fasilitasi mereka dalam hal mengelola. Banyak program pemerintah yang tidak diba-rengi pendampingan dalam hal mengelola, ujung-ujungnya akan gagal. Misalkan dikasih penetas telur, tapi tekniknya tidak diajarkan. Kasih komputer tapi tenaga untuk mengajar anak-anak tidak dikasih.

Kongkritnya?
Misalnya ada beberapa pihak yang menginginkan pesantren itu harus go internasional. Tapi pada waktu pengiriman orang ke luar negeri, mereka malah tidak melibatkan orang pesantren. Untuk itu kami sudah protes kepada Komite Beasiswa NAD. Masa ada da-na Rp. 75 milyar untuk mengirimkan orang ke luar negeri guna mengambil S2, tapi tidak ada satu poin tertentu yang bisa di-terapkan oleh anak-anak pesantren agar mereka bisa kita kirim ke Timur Tengah atau ke Sudan. Itu kan daerah-daerah yang cocok dengan ilmu mereka. Jadi kapan kita bisa harapkan mereka go internasional kalau kita tidak kirimkan mereka ke luar. Kita sebagai SAAI akan mengusut itu semua.

Sedikit saya singgung tentang SAAI, Kayaknya saya baru mendengar SAAI ini, kapan terbentuk dan sejauh mana SAAI sudah bergerak ?
Oh, tidak mengapa, memang SAAI ini sangal Labil di mata dunia, Akhir Tahun 2014 SAAI ini terbentuk, sebelum terbentuknya SAAI dengan secarah sah atau SK pada Akhir 2014 SAAI sudah bekerja, baik dibidang social dan lainya, seperti membatu fakir miskin dan anak yatim.



SAAI ini mencakup seluruh dunia, kita akan coba kerjasama dengan siapapun yang sesuai dengan Misi dan Visi SAAI untuk mengirimkan Santri ke Timur Tengah misalnya, dan hal yang lain. Oleh karena itu SAAI it uterus kita bergerak dan mencari dan berbuat yang terbaik bagi bangsa Aceh. Terlebih-lebih untuk Dayah di Aceh.

Program apa saja yang telah diproject oleh SAAI pada Tahun 2015?
Kita mempunya Suktural yang bagus, oleh karenanya ketika rapat RAKER – Rancangan Kerja disitu akan dapat kita lihat dari berbagai Humas kabupaten atau Humas Kecamatan program yang telah disusun, sedangkan ditingkat Provinsi ini sudah diprogramkan oleh Pengurus inti, bahkan kia membuat program yang mencakup Dunia. Misalnya: Kita akan mencari donator yang berdarah Aceh khususnya yang tersebar di berbagai belahan dunia, kita akan kumpulkan dana untuk membangun Bangsa Aceh. Semua Raker sudah siap dan ada dalam draf Kerja Tahun 2015.

Terimakasih atas waktunya,
Ya, terimakasih kembali.